Rabu, 30 November 2011

Tak ada pilihan yang sempurna

Posted By weirdaft On Jumat, Mei 1st 2009 Kemarin, berbincang dengan seorang kawan yang sudah lama tak mendengar kabarnya. Dia sedang berbahagia sekarang. Menemukan seseorang yang diyakininya dan diharapnya bisa menjadi tempatnya melepas lelah setelah jauh berjalan. Semoga berbahagia, bro. Dan disela pembicaraan kemarin, dia sempat mengucap satu kalimat. Katanya, “Wie, nggak ada pilihan yang sempurna, yang ada hanya keinginan yang sempurna”. Tadinya agak nggak ngeh juga dengan kalimat ini. Tapi, beberapa jam kemudian aku baru benar-benar mengerti. Memahami apa maksud dari kalimatnya siang itu. Bahwa, tak semua yang kita mau bisa kita dapat. Dan memang benar begitu adanya. Tapi hidup memang tentang memilih. Mungkin hanya keinginan yang sederhana. Seperti menyentuh wajahnya, melihat senyumnya, memperhatikan geraknya, tertawa bersamanya, berhadapan. Mungkin hanya sesederhana itu. Sangat sederhana. Seperti pinta tanah kering kepada hujan sore ini. Seperti pinta angin pada hawa panas. Seperti gelegar petir yang mengiringi hujan. Tapi memang, tak semua yang kita inginkan bisa kita dapat. Meski harus berperang lagi antara hati dan pikiran, meski harus berhadapan pada situasi dan pilihan yang begitu sulit, sehingga berpikir untuk lebih baik tidak memilih sama sekali, meski itu artinya harus mengingkari janji, meski harus melukai hati, meski harus berair mata, meski harus luluh lantak, tetap jika takdir sudah menentukan tak ada yang bisa dilakukan. Ah, semoga saja ini tak seperti perkiraan buruk yang dibayangkan. Semoga masih ada celah yang bisa dilewati meskipun kecil dan perlu waktu dan usaha yang ekstra keras untuk lolos dari celah itu. Dan semoga kita kuat ketika menghadapi apapun itu yang ada didepan. Tetaplah saling menggenggam, saling menguatkan dan saling meyakinkan bahwa aral ini bukan apa-apa. Kita toh sudah pernah melewati yang lebih dari ini. Jadi jika kali ini harus melompati rintang lagi, asal tetap saling mendukung tak mengapa. Karena, percayalah bahwa meski Tuhan membuat pilihan menjadi begitu tidak sempurna, akhir yang dibuatNya, takdir yang ditentukanNya, pasti akan sempurna.

Read More..

when the second chance’s given

Posted By weirdaft On Kamis, Juni 25th 2009 Dear you Happy anniversary. Kemarin kalau nggak diingatkan, mungkin lupa. Don’t know what to say. Karena ada begitu banyak yang terlewati. Kau bilang, berlalunya waktu tak terasa. Tapi ku bilang, ini sudah melewati banyak hal. Entah apa yang ada diotakku, ketika kau meminta kesempatan kedua. Yang jelas, menurutku setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, no matter what. Tapi, itu adalah kesempatan terakhir. Dan itu kutegaskan padamu. Meski seeandainya kelak harus berantakan lagi semuanya, tak ada kesempatan ketiga. Karena itu sudah kubuktikan kepada yang lain. Kita tau, belakangan ini semua hal yang berjalan tak begitu baik. Ada banyak keraguan yang terbersit ketika aku mempertanyakan arah kita. Tak ada yang bisa kau lakukan untuk meyakinkanku bahwa kita layak untuk sebuah perjalanan panjang ini. Semua hal menjadi begitu berantakan. Rasa perih mendominasi, airmata mengambil alih. Tapi memang tak ada penyesalan muncul. Kita anggap ini adalah sebuah fase yang memang harus terlewati. Dan kau bilang, jika kita menghadapinya bersama, apapun halangannya bisa kita lewati. Aku tak mau kau berjanji begitu banyak. Cukup tetap ada ditempat dimana kau menemukanku, tak menyakitiku begitu rupa, menghargaiku sebagai partner, mendengarkanku dan tidak bertindak dan berkata bodoh. Itu saja. Selebihnya, bisa kita negosiasikan lagi, masih bisa berdiplomasi lagi. Yang jelas, segala hal harus sesuai dengan kesepakatan. Tak ada yang boleh mendominasi disini. Sudah cukup banyak yang terlewati dalam perjalanan ini. Tak selalu hal baik, tak selalu tawa, tak selalu senang. Karena terkadang, sadar atau tidak, sering kali hal-hal buruk menyapa, menangis meski tak sering dan perih yang menghampiri sesekali. Tapi, kita sadar bahwa itu adalah warna, dan warna-warna seperti itu yang membuat dunia ini terus berputar dan menjadi begitu indah. Jadi, aku tak punya clue akan sampai mana batas perjalanan ini. Apakah akan sepanjang perjalanan bumi; Akankah terganjal lagi, akankah terhalang lagi, aku tak pernah tau. Yang pasti, sampai kemana pun perjalanan ini berbatas, aku harap kita bisa melewatinya dengan baik. Dan segala perih, meski tak bisa dihilangkan, paling tidak masih bisa diminimalisasi. Uhhmmm….jadi, Happy Anniversary, tuan muda Luv ya

Read More..

Rabu, 19 Oktober 2011

Ngemil Malam Biin Gendut?

http://www.detikfood.com Suka ngemil di malam hari? Berhati-hatilah karena ngemil di malam hari bisa memicu konsumsi kalori berlebihan yang berakibat pada kenaikan berat badan. Kebiasaan ini juga bisa menggangu kerja hormon dalam tubuh. Kebiasaan melek di waktu lama selain untuk kerja lembur juga bisa karena untuk menyalurkan hobi menonton TV atau film, browsing hingga belanja online. Untuk menemani waktu melek orang cenderung mengemil baik makanan kecil atau besar. Beberapa riset menemukan bahwa tidur minimal 6 jam akan membantu kita mencapai berat tubuh ideal dan lebih sehat. Peneliti menemukan bahwa hormon di otak dan zat kimianya bertanggungjawab untuk rasa lapar dan kenyang yang berkaitan erat dengan ritme circadia alami. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Obesity mengungkap bahwa ngemil di malam hari cenderung makan berlebihan dan menjadi kelebihan berat badan. Hal ini tidak terjadi pada mereka yang makan malam pada jam 8 malam dan tidak ngemil lagi. Peneliti menemukan mereka yang mereka yang melek waktu malam makan sekitar 250 kalori termasuk fast food, soda dan sedikit sayuran dan buah segar. Penemuan lain menyebutkan, makan malam lebih dari jam 8 akan cenderung memicu kegemukan dan tidak dipengaruhi apakah langsung tidur atau berapa lama tidurnya. Mereka yang ngemil di malam hari mengkonsumsi 754 kalori, sedangkan yang tidak hanya 376 kalori saja. Semangkuk es krim di siang hari sama kalorinya dengan semangkuk es krim di malam hari. Namun riset memperlihatkan bahwa mungkin ada perbedaan hormon dan metabolisme yang membuat kalori di malam hari berakibat pada kegemukan. Pertama, orang ngemil di malam hari biasanya sambil nonton TV, main video, bekerja atau belanja online. Biasanya akan cenderung makan berlebihan karena makan sambil mengerjakan sesuatu sehingga rasa kenyang muncul lebih lama. Kedua, riset pada binatang dan manusia memperlihatkan bahwa ritme circadia dalam makan dan tidur biasanya berlangsung sinkron. Ngemil di malam hari membuat kerja hormon yang mengatur selea makan dan rasa kenyang terganggu dan membuat tubuh cenderung menyimpan kalori sebagai lemak. Kalori terbaik didistrusikan sebelum makan malam. Sekali makan malam, usahakan untuk tidak makan hingga waktu tidur sehingga lebih mendukung pencapaian berat badan ideal. Jika sangat lapar, konsumsi camilan ringan sebesar 200 kalori saja yang bisa memberikan nutrisi baik buat tubuh. Misalnya saja, sepotong sandwich, sepotong buah segar atau biskuit gandum atau sepotong keju rendah lemak.

Read More..

Senin, 12 September 2011

Indahnya Hidup Mandiri

Oleh : Ali Margosim Chaniago Adalah hal yang lumrah ketika banyak diantara kita yang merindukan hidup segera mandiri terutama bagi seorang mahasiswa. Lepas dari ketergantungan biaya dari orang tua memang prestasi terhebat. Mengingat sudah berumur menjelang atau sudah diatas 20 tahun, namun masih saja takut dengan pemutusan Program bea siswa rutin orang tua tiap bulannya. Ya Mandiri, itu semua hanya impiam belaka, mimpi kosong di siang bolong. No action, no result. Yang pengen mandiri itu banyak, tapi yang benar-benar jadi hanya sebagian kecil saja. Ini memang fakta yang sudah tak terbantahkan lagi. Memang nyaman ke kampus pakai mobil, motor, walau milik orang tua. Memang enak kalau mau makan tinggal ambil duit ke ATM. Memang asyik bila mau jalan-jalan, duitnya tinggal telepon orang tua. Memang nikmat kalau kuliah tinggal nunggu kiriman bokap. Tapi, pernahkah kita berfikir bahwa kenyamanan tersebut telah mendidik kita menjadi pribadi yang pasif, bermental miskin, dan mematikan sejuta potensi kreatifitas kita? Hal ini perlu menjadi renungan. Kapankah kita akan berhenti bergantung pada orang tua sementara diri kita tak pernah disiapkan untuk menjadi pribadi yang mandiri? Apakah kita tak pernah berfikir bahwa orang tua tak pernah mendambahkan anak yang selalu bergantung padanya, tak bisa mandiri? Saudaraku, sudah saatnya kita keluar dari zona nyaman ini (kondisi pasif), sungguh ini tak mendidik untuk maju. Saya kira ada 5 poin penting yang perlu kita persiapkan untuk menjadi pribadi yang bermental kaya, pemuda mandiri : 1. Visi hidup yang jelas, terukur, dan besar. Disainlah hidupmu. Mau dibawa kemana hidupmu 5, 10, atau 20 tahun yang akan datang. Hal apa saja yang harus kau lakukan dan untuk apa. Namun satu catatan penting, hiduplah untuk memberi yang sebesar-besarnya bukan menerima yang sebesar-besarnya. 2. Bermental Pemuda Selalulah berkata bahwa pemuda itu adalah mereka yang bermental bagaikan baja bukan kerupuk. Berani untuk memulai, berproses, dan berani pula menerima hasilnya. 3. Now or never Jangan pernah berkata ‘ besok saja’ tapi katakanlah ‘sekarang atau tidak sama sekali’. Hanya ada satu kesempatan dalam hidup ini, kesempatan yang sama tak pernah berulang. 4.Mulai dari hal yang kecil. Mulailah menata pengeluaran harian, aturlah rencana pengeluaran, carilah berbagai peluang yang bisa membuat anda berpenghasilan, tangkap satu atau dua saja yang menurut anda berprospek, lalu fokuslah. 5.Nikmati Proses dan Syukuri setiap yang anda lakukan. Apapun yang kita lakukan di dunia ini tak pernah mangkir dari proses. Agar proses berjalan mulus maka nikmatilah setiap lika-likunya, dan bersyukurlah…! Buktikanlah, dan lihatlah apa yang akan terjadi pada diri anda.

Read More..

Rabu, 27 Juli 2011

Ketika Allah Menjadi Alasan Utama

Dikutip dari :Bunda Givaldi

Kepada yang ingin menikah tapi sampai sekarang belum menikah, kepada yang sering berdo’a dipertemukan dengan jodohnya tetapi belum dipertemukan, kepada para pasangan yang sudah ingin menikah tetapi belum dimuluskan jalannya menuju pernikahan, ada baiknya surat dibawah ini menjadi renungan bersama. Surat yang ditulis oleh seorang istri kepada suaminya. Selamat membaca…


Suamiku, ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka aku berani memutuskan untuk menerima pinanganmu dan berpasrah ketika kau berkehendak menyegerakan pernikahan kita.


Ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka aku berani memutuskan dengan siapa aku akan menikah. Aku tidak banyak ragu tentang dirimu, kau jemput aku di tempat yang Allah suka, dan satu hal yang pasti, aku tidak ikut mencampuri ataupun mengatur apa-apa yang menjadi urusan Allah. Sehingga aku dinikahi seorang lelaki shalih, tegar, dan menjadi komitmenku untuk berbakti kepada suami.

Ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak melihat segala kekurangan suamiku. Dan sekuat tenaga pula, aku mencoba membahagiakan dia.
Ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka menetes air mataku saat melihat segala kebaikan dan kelebihan suamiku, yang rasanya sulit aku tandingi.
Ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka akupun berdoa, Yaa Allah, jadikan dia, seorang lelaki surga, suami dan ayah anak-anakku, yang dapat menjadi jalan menuju surga-Mu. Aamiiin.

Telah menjadi azzamku, kalau Allah menjadi alasan paling utama untuk menikah, maka seharusnya tidak ada lagi istilah, mencari yang cocok, yang ideal, yang menggetarkan hati, yang menentramkan jiwa, yang…..yang.…yang……dan 1000 “yang”…… lainnya….. Karena semua itu baru akan muncul justru setelah melewati jenjang pernikahan. Niatkan semua karena Allah dan harus yakin kepada Sang Maha Penentu segalanya.

Ketika usiaku 20 tahun, aku sudah memiliki niat untuk menikah, meskipun hanya sekedar niat, tanpa keilmuan yang cukup. Karena itu, aku meminta jodoh kepada Allah dengan banyak kriteria. Dan Allah-pun belum mengabulkan niatku.

Ketika usiaku 21 tahun, semua orang-orang yang ada di sekelilingku, terutama orang tuaku, mulai bertanya pada diriku dan bertanya-tanya pada diri mereka sendiri. Maukah aku segera menikah atau mampukah aku menikah? Dalam doaku, aku kurangi permintaanku tentang jodoh kepada Allah. Rupanya masih terlalu banyak. Dan Allah-pun belum mengabulkan niatku.

Ketika usiaku 22 tahun, aku bertekad, bagaimanapun caranya, aku harus menikah. Saat itulah, aku menyadari, terlalu banyak yang aku minta kepada Allah soal jodoh yang aku inginkan. Mulailah aku mengurangi kriteria yang selama ini menghambat niatku untuk segera menikah, dengan bercermin pada diriku sendiri.

Ketika aku minta yang tampan, aku berpikir sudah cantikkah aku?
Ketika aku minta yang cukup harta, aku berpikir sudah cukupkah hartaku?
Ketika aku minta yang baik, aku berpikir sudah cukup baikkah diriku?
Bahkan ketika aku minta yang soleh, bergetar seluruh tubuhku sambil berpikir keras di hadapan cermin, sudah solehahkah aku?

Ketika aku meminta sedikit….. Ya Allah, berikan aku jodoh yang sehat jasmani dan rohani dan mau menerima aku apa adanya, masih belum ada tanda-tanda Allah akan mengabulkan niatku.

Dan ketika aku meminta sedikit…sedikit…sedikit…lebih sedikit….. Ya Allah, siapapun lelaki yang meminangku langsung khan kuterima ajakannya untuk menikah tanpa banyak bertanya, berarti dia jodohku. Dan Allah-pun mulai menujukkan tanda-tanda akan mengabulkan niatku untuk segera menikah. Semua urusan begitu cepat dan mudah aku laksanakan. Alhamdulillah, ketika aku meminta sedikit, Allah memberi jauh lebih banyak. Kini, aku menjadi isteri dari seorang suami yang berilmu, bijaksana, dan menerimaku apa adanya.

Read More..

Kosong

Dikutip dari :http://www.edo.web.id/wp/2009/09/19/kosong/

Lebaran tengah menjelang. Ramadhan mencapai akhirnya. Apa yang kita dapatkan di Ramadhan kali ini?

Bertahun-tahun lebaran saya isi dengan sebuah kekecewaan tentang makna puasa dan lebaran itu sendiri. Selalu apatis terhadap orang yang pulang kampung yang menghabiskan jutaan rupiah sebagai bentuk ke-ria-an (bukan riya) meski membuat roda ekonomi bergulir cepat. Selalu sinis ketika orang berduyun-duyun narsis dan gombal pada Tuhan-nya, menuntut pamrih atas janji-Nya dibulan penuh rahmat. Mengutuk menurunnya produktifitas atas nama perintah agama dan Tuhan. Mempertanyakan apakah memang ini yang diharapkan-Nya dibulan suci ini.


Daripada buang uang dengan mudik dengan berbagai polusi yang diciptakan oleh jutaan kendaraan, lebih baik digunakan untuk yang lebih bermanfaat kataku. Mengingat Tuhan itu bukan hanya dominasi bulan puasa, toh harus dilakukan kapan saja. Bahkan janji Tuhan itu tak perlu ditagih. Sorga dan neraka itu tak perlu dipertanyakan. Produktifitas seharusnya meningkat di bulan suci, bukannya malah loyo dan berejakulasi atas nama Tuhan. Begitulah apa yang ku fahami selama ini.

Dan tahun ini?

Tahun ini aku masih berontak pada-Nya. Tapi dalam sebuah kelelahan. Sebuah ketidakberdayaan. Tak ada lagi serapah tentang mudik, narsis dan produktifitas. Tidak ada. Yang tersisa hanya kekosongan. Sebuah refleksi ke-aku-an ku. Keakuan ternyata hanya menghasilkan sebuah kekosongan. Hanya yang esa yang berhak dan layak berkata Aku. Karena ke-Aku-an memang hanya akan menghasilkan kesendirian. dan aku lelah.

Didiri manusia memang bersemayam nilai ketuhanan, termasuk nilai iblis, setan, malaikat, binatang. Wajar sebenarnya jika manusia memiliki sisi ke-aku-an, sebagai representatif sisi ke-Tuhan-annya. Hanya saja dia akan menjadi masalah ketika aku itu menciptakan kesombongan. Berada dititik yang tidak seharusnya. Dan yang lebih merepotkan lagi, jika Aku yang sedang bersemayam bukan Aku-nya Tuhan. Tapi aku-nya setan, aku-nya iblis, aku-nya binatang. Dan usai lah sudah. Dengan segala kekurangan yang dimiliki oleh manusia, potensi untuk memahami segala sesuatu secara tidak utuh sangat mungkin terjadi. Dan yang ada adalah sebuah kefahaman yang didasari oleh ketidakfahaman.

Sebuah tulisan dari sang bengawan Gede Prama tentang kosong dan isi menyadarkanku atas rasa yang bergulat kali ini. Tentang kosong. Tentang isi.

Kosong, nol, hampa, tiada. Kekosongan memang identik dengan nilai-nilai yang berbau tidak menyenangkan. Kosong itu menyiksa, hampa itu menakutkan, tiada itu mengerikan. Dan memang begitu adanya, jika alat ukur yang digunakan hanyalah kepala.

Namun pernahkan terbayang jika alam semesta ini semua terisi, sehingga bahkan udarapun tidak memiliki tempat untuk bersemayam? Lalu apa yang akan kita hirup untuk menyambung hidup?.

Kepala ini semakin pusing ketika pemahaman-pemahaman itu tak berhenti mengisi ruang-ruang otak. Aku lupa. Lupa bahwa berfikir itu bukan saja hak otak. Masih ada hati yang harus digunakan. Paradigma dikotomis benar-salah, sukses-gagal, sedih-gembira dan lain sebagainya sebagai hasil berfikir dengan kepala yang berlebihan ternyata hanya menghasilkan sebuah keruwetan yang memusingkan dan tak bernah ada akhirnya.

Kesenangan adalah kesedihan yang terbuka bekasnya
Tawa dan airmata datang dari sumber yang sama
Semakin dalam kesedihan menggoreskan luka ke dalam jiwa
Semakin mampu sang jiwa menampung kebahagiaan

Begitu kata sang begawan Gibran. Jika saja sedih dan bahagia itu diganti dengan kosong dan isi, maka besarkan kekosongan itu juga bermakna seberapa besar isi yang bisa ditampung.

Hanya yang pernah sakit yang mengerti nikmatnya sehat. Hanya yang pernah kehilangan yang mampu mensyukuri nikmatnya memiliki sesuatu. Hanya yang pernah sedih yang mampu menikmati artinya bahagia.

Bulan puasa kali ini benar-benar telah memberikan makna yang dalam bagiku. Karena bulan ini adalah waktu yang dispesialkan oleh Tuhan untuk mengosongkan diri. Untuk berhenti sejenak dari analisa-analisa tak berujung yang dibuat oleh kepala. Agar kita mampu memahami arti sebuah kekosongan, ketidakberdayaan, ketidak-kuasa-an.

Duh, betapa sulit untuk mampu bersikap arif…

Diselingi nyanyian takbir, aku, disini, mencoba memahami kekosongan. Mencoba mencari sesuatu dari ketiadaan. Mengharap mendapat makna yang dalam, dari kekosongan dan ketiadaan itu itu sendiri. Mengharap mampu seperti udara, yang hidup di ruang kosong tapi memberi manfaat yang luar biasa. Mencoba memahami bahasa tangis bayi, yang apapun sukunya, siapapun bapaknya, ditanah manapun dia terlahir, dia tetap menghasilkan bunyi yang sama. Dan bahasa itu mampu dipahami oleh siapa saja.

Selamat hari raya Idul Fitri…

Mohon maaf lahir dan Bathin…

Hening itu tidak mati. Dalam hening ada suara - Aas Rukasa. Thank you kang…

Read More..

Pahitnya Tahun Pertama Perkawinan

Siapa bilang tahun pertama itu manis melulu? Enggak juga, kok! Justru tahun pertama paling rawan dalam perkawinan

Kita mungkin akan terkejut dan heran bila mendengar suami-istri yang baru beberapa bulan menikah tapi sudah bercerai. Bukankah pada masa itu mereka bisa dibilang masih dalam masa berbulan madu? Tapi, itulah kenyataannya, tak sedikit pasangan yang justru bercerai sebelum usia perkawinan mereka genap setahun.


Tahun pertama perkawinan memang paling rawan. Ibarat koin, kata Dra. Dharmayati Utoyo Lubis, MA, PhD., tahun pertama memiliki dua sisi. "Satu sisi memang masih bulan madu, masih manis. Satu sisi lainnya adalah masa penyesuaian, sehingga akan banyak menumbuhkan konflik," terang pembantu dekan I Fakultas Psikologi UI ini. Nah, konflik inilah yang merupakan pemicu terjadinya perceraian apabila suami-istri tak mampu mengelola konflik secara baik.

TAK SEMANIS YANG KUSANGKA

Yang namanya bulan madu, ujar Yati, maka kemanisan itu hanya berlangsung beberapa bulan saja. "Sesudah itu muncullah topeng sebenarnya. Di balik segala kebagusan yang selama ini ditunjukkan sejak masa pacaran, kini mulai kelihatan borok-boroknya." Dengan kata lain, masing-masing mulai keluar watak aslinya. Hal ini terjadi lantaran mereka sudah capek memakai topeng, sudah capek untuk menampilkan yang bagus-bagus melulu.

Nah, pada saat itulah, ketika mereka mulai kelihatan aslinya, mulailah muncul pertanyaan-pertanyaan. "Sebenarnya apa, sih, yang membuat saya menyukainya? Ternyata ia begini saja, kok. Tak semanis yang kusangka." Lantas ia pun merasa salah pilih. Padahal, orang menikah itu, kan, enggak cuma seketika. Tentunya keputusan untuk menikah sudah dipikirkan matang-matang sebelumnya, karena menyangkut kehidupan pribadi. Jadi, kalau ia sampai merasa salah pilih berarti dulu enggak dipikir lagi sebelum memutuskan menikah.

Memang, aku Yati, tak semua pasangan akan mengalami hal demikian. "Ada, kok, yang sampai setahun tetap manis terus." Itu bisa terjadi kalau selama pacaran sudah saling membuka diri, sudah tahu yang jelek-jeleknya, sehingga tak kaget lagi setelah menikah. Tapi jika selama pacaran yang diketahui dan diperlihatkan hanya yang bagus-bagus saja, maka akibatnya akan mengalami masa rawan tersebut.

SOAL SEPELE YANG BIKIN KONFLIK

Adapun masalah yang kerap timbul di tahun pertama perkawinan, menurut Yati, sebenarnya cuma pernik-pernik yang kelihatannya sepele tapi dirasakan sangat mengganggu. Misalnya, soal yang satu jorok yang satu rapi. "Masak, kalau habis mandi handuknya main lempar sembarangan saja, bukannya diletakkan di tempatnya. Padahal sudah saya sediakan tempat. Belum lagi pulang kantor, sepatu ditaruh di bawah sofa, tas kantor di atas meja makan, taruh pakaian kotor sembarangan, dan sebagainya." Nah, hal-hal seperti itu kelihatannya kecil, tapi kalau pasangannya ternyata adalah orang yang sangat rapi dan teratur, maka ini bisa jadi masalah.

Selain itu, yang kerap muncul adalah tak pernah dibicarakannya soal keuangan. "Sebetulnya paling bagus ketika kita sudah serius sekali pacaran, bicarakan masalah keuangan ini. Bagaimana pandangan kamu tentang keuangan? Apakah harus ada pot yang diisi oleh gaji kita berdua, atau cukup dipegang masing-masing, hanya kamu bertanggung jawab dalam bidang apa dan saya bidang apa. Kelebihannya itu urusan masing-masing, dan sebagainya." Termasuk pemberian uang untuk orang tua masing-masing, juga harus dibicarakan. Kalau tidak, bakalan ribut, deh!

Yati lantas menuturkan pengalaman kliennya yang baru setahun menikah tapi sudah minta cerai. Gara-garanya, si suami memberi lebih banyak kepada orang tuanya daripada ke mertua. Karena ibunya janda dan tak punya pensiun sehingga dialah yang bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan ibunya, sedangkan orang tua istrinya masih komplit dan tergolong berada. Tapi karena hal ini tak pernah dibicarakan, maka ketika si istri tahu tentunya ia menganggap tindakan suaminya itu tak adil. Jadilah mereka konflik dan si istri minta cerai.

Masalah lain yang kerap muncul ialah perilaku pasangan yang layaknya masih bujangan. Suami pulang ke rumah seenaknya, tak sadar istrinya menunggu untuk makan malam bersama, bersikap masa bodoh dengan keadaan rumah, dan lainnya.

Nah, bila itu semua sudah diketahui dan dibicarakan selagi masih pacaran, tentunya tak akan menjadi gangguan selama tahun-tahun pertama. Kalaupun ada gangguan, maka hanya berupa kerikil-kerikil kecil yang masih bisa disepak. Itulah mengapa Yati menganjurkan sebelum menikah sebaiknya kita sudah benar-benar tahu dengan siapa kita akan menikah, baik kelebihan maupun kekurangan.

Tentunya setelah tahu kita harus bersungguh-sungguh menerima dia apa adanya. Bukan menerima dengan setengah hati dan lantas berpikir, toh, nanti aku akan mengubah dia seperti apa maunya aku. "Itu kesalahan fatal," tandas Yati. Sebab, kita menikah dengan orang yang ketika bertemu sudah dewasa, yang pribadinya sudah terbentuk hingga ia dewasa itu. Jadi, kita tak mungkin bisa mengubahnya kecuali kalau ia memang mau mengubahnya sendiri.

Kecuali itu, pasangan juga harus sadar bahwa dalam perkawinan ada hak dan kewajiban. "Kadang orang hanya ingat pada hak dan lupa pada kewajibannya," ujar Yati. Adalah tugas kita untuk mengingatkan pasangan kalau ia sampai lupa pada kewajibannya, bahwa kewajibannya kini sudah menyangkut dua orang dan akan bertambah setelah punya anak, bukan sendiri lagi.

KOMUNIKASI DAN TOLERANSI

Tapi sebenarnya belum terlambat, kok, jika plus-minus tersebut tak diketahui saat masih pacaran. Toh, kita bisa melakukannya di awal perkawinan. Tapi hal ini hanya bisa terjadi apabila ada komunikasi, masing-masing saling membuka diri dan saling mendengarkan. Maklumlah, di tahun pertama perkawinan biasanya ego masing-masing masih sangat besar, selalu berbicara dalam konteks "aku" dan "dia", bukan "kami". "Padahal kalau orang sudah menikah berarti mereka telah menjadi satu. Jadi, dalam berbicara konteksnya bukan lagi 'aku' dan 'dia' tapi 'kami'. Pola 'demi kami' ini harus mulai dibiasakan sejak awal perkawinan," tutur Yati.

Misalnya, pasangan bilang, "Aku nggak suka kalau kamu marah terus lempar-lempar barang." Jangan malah kita bilang, "Kalau kamu nggak suka, kenapa kamu kawin sama aku?" Karena hal ini malah akan memperuncing konflik. Si pasangan tentu akan bilang, "Karena aku nggak menyangka kamu sejelek itu makanya aku mau kawin sama kamu." Akibatnya, malah perang", kan! Yang terbaik adalah bersikap mengerti, "Jadi, menurut kamu aku mesti berubah? Tapi kalau aku harus berubah, sedikit saja, ya. Soalnya sejak kecil aku sudah begitu. Jadi susah, kan, kalau aku langsung berubah banyak. Tapi kalau menurut argumentasi kamu, aku harus mengubah diri, ya, aku akan berusaha." Nah, dengan begitu, kan, enak jadinya.

Intinya adalah membuka keran komunikasi lebar-lebar dan bersikap toleransi karena kita tak bisa mengubah pasangan seperti yang kita inginkan. "Dengan adanya toleransi kita akan sadar bahwa manusia tak ada yang sempurna. Lagipula, ketika kita memilih dia untuk menjadi pasangan kita, mestinya dalam kepala kita yang terpikir adalah he is the best for me. Nah, kenapa sekarang hanya lihat yang kurangnya saja?"

Jangan lupa, Yati mengingatkan, bila sampai terjadi pecah "perang" berarti bukan hanya satu yang kecewa. "Saya yakin pasangannya juga kecewa." Munculnya rasa kecewa ini menandakan belum seluruh "dirinya yang diketahui, sehingga yang terjadi adalah adalah ia hanya melihat sisi negatifnya saja. Nah, agar kita juga bisa melihat sisi positif pasangan, saran Yati, buatlah daftar tentang apa saja yang kita sukai dari pasangan. "Mestinya yang bagusnya juga banyak. Bukankah karena yang bagus-bagus itu makanya dulu kita mau kawin dengannya?"

Perlu disadari pula, tambah Yati, semua orang menikah pasti akan kecewa. Jadi, jangan berpikir bahwa hanya kita yang kecewa. Pasangan kita pun pasti punya kekecewaan juga. Selain itu, bila salah satu marah pada saat berkomunikasi, maka yang dingin sebaiknya meredakan. Kalau sudah reda barulah dilakukan pendekatan. Bila perlu, saran Yati, pergilah ke suatu tempat untuk membicarakannya.

INSTROPEKSI BERDUA

Sering terjadi, pasangan muda segan untuk mengungkapkan kekecewaannya. Dipikirnya, "Masak, sih, baru tahun pertama saya sudah merasa kecewa, sudah memancing keributan." Akibatnya, demi menghindari keributan, dipendamlah rasa kecewa tersebut. Padahal, akhirnya, toh, akan ribut juga karena suatu saat akan meledak juga setelah tak tahan memendam kekecewaan demi kecewaan.

Oleh sebab itu, pesan Yati, "kalau sudah mulai ada yang mrengkel di dada, kita harus membicarakannya dengan pasangan. Sebaliknya, kalau kita melihat pasangan sudah mulai merengut melulu tapi tak dikeluarkan, maka kita harus peka bahwa ada sesuatu yang salah." Nah, segera lakukan introspeksi berdua, "Kita ngomong, yuk. Apa, sih, yang kamu tak suka dari aku?" Lalu diskusikan, "Bagaimana caranya, ya, supaya aku tidak lempar-lempar barang lagi?" Dengan demikian, kita ataupun si pasangan bisa mengubah diri. "Tapi jangan salah persepsi, lo. Kita memang harus memulai perkawinan dengan tak berpikir bahwa kita bisa mengubah dia sesuai kehendak kita. Tapi dilain pihak, orang bisa berubah kalau ia mau berubah. Jadi, yang jelek bisa berubah bagus tapi perubahan itu atas kemauannya sendiri, bukan kita yang maksain."

Tentunya kita jangan berharap bahwa pasangan akan berubah dalam sehari. "Hargailah perubahan sekecil apapun." Misalnya, biasanya ia pulang kantor langsung lempar tas ke mana saja ia suka. Nah, kali ini tidak walaupun ditaruhnya masih sembarangan yaitu di atas meja.

Mungkin mata kita masih "sepat" melihatnya, tapi hargailah agar ia pun merasa dihargai, "Oh, dia melihat perubahanku walau sedikit." Lama-lama ia tentunya akan melangkah lagi. "Jadi jangan melihat suatu sukses itu dalam paket besar. Paket kecil-kecil pun lama-lama akan besar. Jangan lupa, yang berubah itu manusia yang sudah jadi pribadinya sehingga tak mudah secepat itu untuk berubah."

Selain itu, Yati minta agar kita lebih santai dalam menghadapi pasangan. Daripada istri marah, misalnya, "Masak taruh sepatu sembarangan? Jorok benar, sih, kamu! Saya capek harus mengurusi sepatumu terus," lebih baik katakan dengan santai, "Mbok, ya, jangan taruh di situ, tapi ke belakang sana di tempatnya." Begitu juga kalau suami komplain karena istrinya selalu memakai daster dan pakai peniti pula. Daripada marah, berilah alternatif, "Apa kamu mau saya belikan daster baru?" Begitu lebih enak, kan!

Menurut Yati, kalau kita berpikirnya alternatif, bukan hitam-putih, maka tak akan menimbulkan pertengkaran. Malah jadi lucu dan humor. Jadi, tandasnya, "asalkan kita bisa me-manage tahun pertama ini agar berjalan manis, maka akan bagus sekali."

Biasanya, masa pahit di tahun pertama akan berlangsung hingga tahun ke-4 perkawinan, karena sampai tahun tersebut kita masih dalam masa penyesuaian. Meskipun seharusnya memasuki akhir pertama kita sudah mulai bisa belajar menyesuaikan diri. "Nah, kalau prahara di tahun pertama bisa dilewati, biasanya di tahun kedua dan seterusnya akan manis," ujar Yati. Sebab, di tahun ke-2 dan seterusnya biasanya sudah ada anak, sehingga pikiran dan tenaga akan tercurah pada anak. Dengan demikian, yang tadinya hati mulai mendingin terhadap pasangan, jadi balik lagi dan bahkan bisa jadi hangat lagi dengan adanya anak.

Namun begitu bukan berarti pada tahun-tahun selanjutnya akan terus mulus. Sebab, yang namanya perkawinan merupakan proses, sehingga penyesuaian dan pertengkaran akan terus berjalan. Tinggal bagaimana kita menyiasatinya.

Oleh :Indah Mulatsih

Read More..

Setahun yang Lalu

Setahun lalu
Adalah momen tak terlupa
Adalah awal berlayarnya perahu cinta kita


Setahun lalu
Awal dari malam-malam yang terlewati tanpa kesendirian
Awal dari sebuah pertanggung jawaban konsekuensi dari pilihan hidup

Setahun lalu
Awal kita menapaki hidup bersama
Awal kebersamaan kita menuju Dia yang abadi

Setahun lalu
Kita menikah
Kau jadi suamiku dan aku jadi istrimu

Ya Allah, jadikan hari-hari kami menjadi lebih baik, amiin.
Ya Allah,anugerahkanlah kami keturunan yang sholeh dan sholehah
Ya Allah, aku rindu akan tangisannya
Aku rindu menimangnya

Read More..

Selasa, 26 Juli 2011

Bukan Aku

Bukan aku yang harus disalahkan
semua karena keadaan


Bukan aku yang menginginkan itu terjadi
tapi semua sudah tertulis

Dan seharusnya
Bukan aku yang harus kau kenang
aku hanya masa lalu
Bukan aku yang harus kau ingat
aku hanya sebuah bayangan

Dan selayaknya
Bukan aku yang harus kau rindukan
aku sudah menyakitimu
Bukan aku yang harus kau impikan
aku tak bermimpi lagi

Bukan aku lagi
carilah penggantiku
Bukan aku lagi
Lupakanlah aku

Aku sudah bersama yang lain
Meski sulit inilah sebuah pilihan
Temukan mimpimu yang sesungguhnya

Read More..

Rabu, 13 Juli 2011

Sedang ingin sendiri

Berjalan sendiri bukan tidak ada yang menemani
Tapi aku memang tak ingin kau temani...


Aku ingin berjalan dengan ingatanku padamu saja kali ini
Kesendirian ini, untuk mengingat semua keindahan hidup saat saat bersamamu..
Berjalan diantara kenangan yang kita hias bersama
Aku tak hendak menggenggam tanganmu dalam melintasi kenangan kali ini
Meski aku yakin engkau selalu ada untukku.
Aku tak ingin di temani tapi ingatanku sedang denganmu
Ragaku di sini tetapi jiwaku mengembara mencari hatimu
Merentas pikiran dalam menyatuan asa
Menunggu waktu untuk bersama di surga kita

Read More..

Jumat, 13 Mei 2011

Menantang Allah

Kita sebagai manusia, tidak ada seorangpun yang meminta untuk diciptakan dan terlahir ke dunia ini. Begitu juga dengan Alam Semesta dan seisinya. Tetapi Allah pasti lebih mengetahui makna atas semua itu mengapa diciptakan-Nya.

Akal kita tak akan pernah mampu untuk menjawab dan menterjemahkan, karena memang setiap kejadian dan peristiwa sudah menjadi qalam-Nya.


Apalagi jika diantara kita masih saja ada yang meragukan keberadaan Allah. Dan masih enggan untuk bersujud atas segala karunia-Nya. Secara tidak langsung berarti kita menantang Dia, yang padahal jika nanti sudah menjadi seonggok daging tak bernyawa, apalah arti diri kita?

Banyak orang yang sholat tetapi tidak paham akan bacaan sholatnya. Banyak orang beramal tapi hanya mengharap pujian dan sanjungan. Banyak orang memberi nasehat tetapi melupakan akhlak keluarganya sendiri. Begitu banyak orang yang mengaku muslim, tapi hanya sedikit yang benar-benar mukmin.

Dunia ini cuma persinggahan, dan pasti nanti masih ada kehidupan di Akherat. Itupun buat yang mau mengimaninya. Kemana kita akan melangkah, Surga atau Neraka ? Semua berbalik pada pilihan masing-masing. Percaya ataupun tidak, itu adalah hak individu. Tetapi jika mengaku seorang muslim, hukumnya adalah WAJIB untuk tetap saling mengingatkan, bukan merasa yang paling benar.

Allah berfirman…

* Katakanlah, Dia-lah Allah Yang Maha Esa.

* Allah tempat meminta segala sesuatu.

* Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakan.

* Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.

(QS Al Ikhlash 112:1-4)
From: http://filsafat.kompasiana.com/2010/05/10/bercanda-dengan-allah/

Read More..

Rabu, 04 Mei 2011

1 KEMARAHAN membutuhkan 10 CINTA

Love is Magic
By Supardi Lee
Seorang anak menangis. Usianya baru 3.5 tahun. Ayahnya membentak dengan keras. Sungguh sakit rasanya. Padahal ia hanya ingin bermain-main dengan ayahnya. Sang ayah baru pulang kerja dan sangat lelah. Melihat anaknya menangis, sang ayah pun menyesal. Ia peluk anaknya. Ia katakan: “Maafin Ayah Sayang.” Sang anak tak bergeming. Ia benar-benar kecewa pada ayahnya. Ia bahkan terus menangis sesegukan. Hal yang membuat hati sang ayah teriris-iris sembilu. Dan air mata pun mulai menggenang di matanya.


Kembali ia membujuk anaknya. “Nak, ayah mohon. Maafin ayah. Ayah tak bermaksud menyakitimu. Ayah sayang banget sama kamu”

“Aku cuma ingin main sama Ayah. Apa itu salah?”

“Tidak Nak, Tidak. Kamu tidak salah. Ayah yang salah telah membentakmu. Maafin ayah ya?” air mata sang ayah pun mengalir makin deras.

Sang anak terdiam sejenak. Tapi tangisnya telah berhenti.

Ayahnya berkata lagi: “Yuk, kamu mau main apa sih sama Ayah?”

“Aku mau main bola, Ayah. Nih bolanya dah aku siapin”

“Ayo kalau begitu” Kata sang Ayah sambil menuntun anaknya ke halaman. Tapi tiba-tiba ayah berhenti. Anaknya mengikuti berhenti juga.

”Kamu udah maafin Ayah kan, Sayang?” Tanya ayah.

Sang anak tersenyum dan mengangguk. Senyuman dan anggukan yang melegakan hati Ayah. Ayah pun memeluk. Sang anak membalas pelukan itu dengan erat. Dan ketika keduanya melepas pelukan, dua hati telah kembali ke fithrah bahagianya. Mereka pun bermain bola dengan asyik dan gembira sampai bermandikan keringat. Ajaib. Kelelahan sang ayah setelah bekerja seharian justru hilang. Mereka pun masuk ke dalam rumah dengan gembira.

Saudara yang baik, cerita di atas mungkin sering terjadi pada banyak orang. Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari sana, diantaranya:

1. Kemarahan kecil berdampak besar.

Bentakan sang ayah yang spontan mungkin terwujud dalam satu atau dua kata saja, misalnya : diam!, kenapa?, Nanti dulu! Dan sebagainya. Tapi karena kata-kata itu terlontar dari kemarahan, maka dampaknya sangat negatif. Kata-kata itu menusuk hati anaknya sampai membuatnya menangis. Mungkin karena harapan besar sang anak diluluhlantahkan seketika.

2. Diperlukan banyak cinta dan usaha untuk meredakan akibat buruk kemarahan.

Agar hubungan ayah – anak ini kembali bahagia, sang ayah harus menguras energi yang besar. Dari menyesal, minta maaf, membujuk, memeluk, bahkan sampai menangis. Itulah yang saya maksud dengan judul tulisan ini. Satu kemarahan membutuhkan 10 kasih sayang. Dan bisa juga dibalik. 10 kasih sayang bisa hilang oleh 1 kemarahan. Sama seperti kemarau satu tahun yang tak berbekas lagi karena turun hujan seharian. Karena ada fakta seperti ini, maka sebaiknya anda membiasakan diri untuk menjadi pribadi yang penuh kasih sayang. Bagaimana dengan kemarahan anda? Ya, kemarahan itu tetap ada dalam diri anda. Sewaktu-waktu bisa muncul. Tapi, saat waktunya tiba, anda bisa marah dengan cara yang baik.

3. Sering terjadi kontradiksi antara suara hati dengan tindakan.

Apakah setiap ayah mengasihi anaknya? Apakah setiap ayah rela berkorban apa saja demi kebaikan dan kebahagiaan anaknya? Apakah ayah bekerja keras luar biasa demi kepentingan anaknya? Jawaban ketiga pertanyaan ini adalah : Pasti. Itulah suara hati setiap ayah. Tapi, suara hati itu sering juga tertutupi oleh berbagai tabir. Tabir itu membuat sang suara hati terhalangi dan tidak mewujud menjadi tindakan. Tabir-tabir itu mungkin bernama kelelahan, kemarahan, egoisme, kesibukan, godaan, ambisi karir, dan sebagainya. Maka hadirlah tindakan dan perkataan yang justru bertolak belakang dengan suara hati. Bekerja lembur setiap hari, sampai melewatkan momen-momen bermain dengan anak-anak. Lupa akan hari ulang tahun istri/suami atau anak-anak karena terlalu sibuk. Terlalu mengandalkan pengasuh untuk mendidik anak. Mengekspresikan cinta pada keluarga sebatas banyaknya uang yang diberikan. Berhati-hatilah…

4. Betapa mudahnya seorang anak untuk memaafkan dengan tulus.

Pagi hari, anak anda mungkin berantem dengan temannya. Tapi siang hari, mereka telah bermain dengan asyik lagi. Yap. Anak-anak itu sangat mudah memaafkan dan kembali menikmati hidup bahagianya. Mereka tidak lama-lama dibayangi oleh dendam yang merusak hidup. Karenanya sangat lah pantas bila setiap kita belajar pada anak-anak untuk sesegera mungkin memaafkan kesalahan orang lain pada kita.

5. Cinta itu ajaib.

Percayailah cinta, karena cinta selalu yakin pada anda. Nikmatilah cinta, karena tak ada yang lebih indah darinya. Jadilah cinta, karena memang itulah sejatinya diri anda. Dan keajaiban pun akan terus menghampiri anda.

Nah saudara, berhati-hati lah dengan emosi anda. Anda harus bisa mengendalikan ekspresi emosi itu agar tidak merusak siapapun. Tidak merusak anda, dan orang-orang yang anda cintai. Selamat berekspresi.

Read More..

Ketidaksempurnaan dalam Kesempurnaan Suatu Hubungan

By Liza Marielly Djaprie
Membangun Kepercayaan Baru dalam Hubungan
“Seiring dengan berjalannya waktu… Masalah pun berlalu dengan sendirinya”

Pernah dengar kalimat itu?
Apakah memang benar?
Apa Anda percaya dengan kalimat tersebut???

Ehmm… secara pribadi saya kok tidak mempercayainya ya.
Maksud saya ya memang ada beberapa masalah yang tidak bisa diselesaikan saat itu juga dan membutuhkan waktu (sedikit) lebih lama untuk penyelesaiannya daripada masalah yang lain.

Tetapi kan jelas-jelas bukan berarti kita hanya perlu duduk ongkang-ongkang kaki dan membiarkan alam semesta ini yang membereskan semua.

Masalah harus dihadapi dan diselesaikan.
Dimana tentunya pertama-tama kita harus memilki keberanian terlebih dahulu untuk mau berhadapan langsung dengan masalah yang ada.

Ini adalah hukum yang berlaku di manapun juga.
Kita tidak akan pernah mendapatkan apapun kecuali kita berusaha untuk mendapatkannya.

Bagaimana kita dapat mengharapkan memiliki hidup yang damai dan tentram jika kita terus-menerus menumpukkan masalah di dalam ‘lemari’ kehidupan kita.
Cepat atau lambat, ‘lemari’ tersebut akan meledak karena kepenuhan toh?
Berapa banyak menurut Anda, ‘lemari’ tersebut mampu menampung masalah-masalah kita??

Saya berharap Anda tidak berpikir bahwa ‘lemari’ kita itu seperti kantong Doraemon yang dengan huebattnya mampu untuk menampung apa saja dan sampai kapan saja tanpa batas sepanjang hidup.
Ehmm… Kalau iya, berarti saya akan stop disini dan berdoa yang terbaik untuk Anda.

Tetapi kalau tidak dan Anda mulai berpikir bahwa ‘lemari’ Anda sudah hampir meledak, memuntahkan masalah-masalah yang tak tersentuh selama ini, maka mungkin sudah saatnya Anda menghadapi kenyataan yang sebenarnya.
Kenyataan bahwa Anda butuh untuk segera membersihkan ‘lemari’ Anda.

Saya percaya, kecenderungan untuk mendiamkan dan menumpuk masalah dalam ‘lemari’ Anda itulah yang seringkali menjadi kericuhan dalam sebuah hubungan. Entah itu hubungan pertemanan, hubungan keluarga atau hubungan dengan kekasih.

Individu dalam sebuah hubungan memiliki kecenderungan untuk membiarkan masalah berlalu dengan sendirinya.
Saya bahkan harus mengakui bahwa terkadang saya pun memiliki kecenderungan tersebut.

Perbedaannya mungkin terletak pada tingkat kecenderungan yang dimiliki.
Beberapa memiliki tingkat kecenderungan yang lebih rendah dan banyak berusaha untuk secepatnya menghadapi masalah-masalah yang tertunda.
Beberapa yang lain mungkin berada pada kondisi penyangkalan terus-menerus dan merasa tidak ada yang perlu untuk dihadapi.

Sejujurnya saya tidak bisa menyalahkan mereka yang berada dalam penyangkalan tersebut.
Dari semenjak lahir, kita selalu diajarkan betapa orang lain melengkapi kita.
Dari semenjak lahir, kita selalu diajarkan bahwa kita tidak sempurna dan selalu membutuhkan orang lain untuk hidup.
Memang di satu sisi hal tersebut tentunya benar.
Kita memang membutuhkan orang lain karena kita adalah makhluk sosial dan membutuhkan orang lain dalam proses belajar kita sepanjang hidup.

Namun sayangnya ajaran yang dibombardir setiap saat ini dapat pula menimbulkan 2 jenis individu.

Yang pertama adalah individu yang menjadi takut sekali untuk kehilangan seseorang (atau setiap orang) dalam hidupnya karena nantinya akan membuat ia menjadi tidak sempurna. Mereka berusaha setiap detik, setiap saat, untuk menyenangkan orang lain untuk dapat merasa sempurna meskipun mungkin hal yang dilakukan menyakiti diri sendiri. Mereka takut untuk menghadapi masalah yang ada karena mereka yakin dengan menghadapi masalah tersebut justru akan membuat hubungan yang terjalin menjadi hancur berantakan.
“Betul kan … Saya memang bodoh. Biarkan sajalah. Tidak perlu untuk membahasnya. Nanti suatu saat juga mereda sendiri masalah ini”

Atau mungkin yang kedua yang terus menyangkal membutuhkan orang lain karena ketakutannya akan ketidaksempurnaan. Mereka berusaha mati-matian untuk membuktikan betapa sempurnanya mereka sehingga tanpa orang lain pun mereka dapat hidup. Mereka selalu berhasil menggali sisi buruk dari orang lain dan selalu juara juga dalam menyalahkan orang lain ketika ada masalah yang terjadi. Setiap ada masalah, itu pasti karena orang lain dan bukan karena mereka.
“duh… dia bodoh sekali sih… dia keras kepala sekali sih… dia ini… dia itu…. Saya tidak peduli lagi! Saya bahagia untuk dapat hidup dalam dunia saya sendiri. Saya tidak butuh orang lain karena saya terlalu sempurna untuk mereka. Dunia tidak akan pernah dapat mengerti saya”

Jika kita dapat menelaah lebih lanjut, kedua bentuk reaksi tersebut sebenarnya mengarah pada emosi yang sama bukan, yaitu ketakutan.

Ini memang tampak seperti situasi yang menyedihkan sekali.
Namun BUKAN sesuatu yang tidak bisa untuk dirubah.
Seperti takdir yang ditulis di atas batu.
Kita dapat merubah kondisi tersebut jika kita memang berniat keras untuk merubahnya.
Bahkan batu pun sebenarnya dapat dipecah menjadi serpihan-serpihan kecil.

Kita dapat mulai melakukan perubahan dengan cara mulai belajar merasakan cinta dan bukan ketakutan.

Selama ini, kita sudah banyak (kenyang malah mungkin) merasakan ketakutan.
Apakah Anda tidak berpikir sudah saatnya untuk berhenti?
Apakah Anda sudah bosan dengan keadaan tersebut?

Jika iya, bagaimana jika mulai membuka lembaran hidup baru?
Mulai belajar merasakan bagaimana rasanya cinta.
Bagaimana rasanya belajar mengikhlaskan dan mencintai diri sendiri dengan segala ketidaksempurnaan yang mungkin ada.

Yup! Dengan bangga saya menyatakan bahwa kita memang tidak sempurna.
Saya tidak ingin menjadi sempurna.
Saya bukanlah manusia jika saya sempurna.
Saya selalu menyatakan bahwa saya sempurna dengan segala ketidaksempurnaan yang mungkin ada dalam diri saya.
Saya bahkan banyak belajar dari ketidaksempurnaan saya.
Saya belajar untuk berusaha, berjuang untuk merubah kondisi jika memang dapat saya rubah. Dan belajar untuk mengikhlaskan, mencintai kondisi yang memang tidak bisa saya rubah lagi.

Saya mencintai setiap aspek ketidaksempurnaan yang saya miliki sama seperti saya mencintai setiap jengkal kesempurnaan saya.
Kenapa?
Karena keduanya malah membuat saya merasa sempurna.

Kita semua tahu bahwa koin memiliki dua sisi.
Kita menerima kenyataan tersebut.

Jadi mengapa kita tidak juga menerima kenyataan bahwa kita pun memiliki dua sisi yang saling melengkapi dalam hidup ini?

Lagipula, ayolah…. Beritahu saya bagaimana caranya kita dapat membenahi masalah-masalah yang ada diluar diri kita, jika kita belum juga mampu membenahi masalah yang ada didalam diri kita sendiri.

Pemikiran yang cukup menyentak bukan?

Oleh karenanya, saya sekarang mendorong Anda untuk mulai belajar menghadapi masalah yang ada.
Saya undang Anda untuk mulai mencintai diri Anda dan berhadapan langsung dengan ‘setan-setan’ Anda.
Mulai dari hal-hal kecil dalam diri Anda, perlahan demi perlahan, lalu mulai mencoba untuk menghadapi yang ada di luar Anda.

Mari bersama-sama kita coba untuk membangun ajaran dan kepercayaan baru dalam hidup ini…
“Saya sempurna dengan segala ketidaksempurnaan saya dan saya mencintai keseluruhan paket diri saya”

Read More..